Minggu, 04 Maret 2012

Untaian Rindu Seribu Bulan

“Ya allah berkahilah kami di bulan rajab dan sya`ban dan sampaikanlah kami di bulan ramadhan”. Untaian doa itu mengalir berarak sampai menjulang ke langit ke tujuh, ribuan bahkan jutaan kalimat doa itu terus menerus menuju langitNya. Tetapi diantara jutaan doa itu tak kutemui suaramu yang ikut berarak bersama semilirnya angin di tengah malam. Ku liat kau masih lelap di sana, padahal aku pun sangat rindu berjumpa  denganmu, tapi sekalipun kau tak pernah menyebut namaku dalam setiap doamu, atau bahkan dalam setiap mimpimu, tak pernah kauselipkan di sana.


Tubuhmu juga tak kau biasakan berjumpa denganku, untuk terus berlapar lapar, manahan lapar dan dahaga.  Padahal sang rasul telah mencontohkan dimna beliau memperbanyak puasa di dua bulan sebelum  aku datang.  Agar fisikmu tak lagi kaget, atau malah jatuh sakit ketika aku datang. Agar kau pun mengerti bagaimana yang di luar sana masih banyak bukan hanya di satu bulan saja, tetapi juga berbulan bulan bahkan bertahun tahun, merasakan apa yang akan kau rasa di setengah harinya dalam sebulan. Dan akhirnya kau akan menjadi makhluk yang bersyukur dan bertambah keimananmu ketika aku pamit nanti.

Kau sedikit sekali berkumpul dengan orang orang yang bisa memberikan manfaat kebaikan padamu, kau jarang berlama lama duduk di mana itu menjadi rumah Allah.  Pekerjaan dan pekerjaan itu yang selalu menjadi alasanmu. Bahkan ketika adzan memanggilmu, kau tak cepat cepat lari pukang menyambutnya,  padahal letaknya hanya beberapa jengkal dari rumahmu. Padahal disana kau bisa menemui banyak orang yang memberikan aura aura kebaikan padamu.

Kau jarang bercengkrama , apalagi berlama lama dengan sekumpulan huruf yang membentuk kalimat kalimat indah yang merupakan kalam dariNya.  Sehingga ketika aku datang nanti kau sudah sangat terbiasa duduk berlam lama, tanpa merassa kesemutan untuk terus dan terus membacanya, hingga kau jumpai penutup doa setelah menyelesaikannya,  dan kau mengulanginya lagi dari awal. Aku takut nantinya, Kitab yang penuh makna itu hanya kau sentuh tatkala kantormu mengadakan pertemuan bersama menyambutku, itu pun hanya ayat ayat tertentu, sekalipun tak ada niat kau menyelesaikan membacanya, menemani malam malammu, kau tetap meletakannya di pojok kamar di atas lemari, tertata rapi dan bersih, karena tak pernah kau sentuh dengan tangan tanganmu.

Kau juga masih dengan keinginan keinginanmu untuk membeli ini dan itu,  tak kau sisihkan sedikitpun untuk mereka , sehingga akhirnya di saat aku datang, kau tak lagi bisa menyenangkanku dengan pemberianmu kepada mereka mereka yang mempunyai hak atas hartamu aku takut akhirnya orang orang yang berhak atas hartamu pun akhirnya tak mendapatkan apa yang menjadi haknya. Padahal berlipat lipat yang akan kau dapat ketika kau melakukannya.

Aku takut kejadian pertemuan kita tahun lalu akan berulang, kau tak pernah mempedulikanku, kau acuhkan aku, kau hanya terliat bahagian hanya di awal awal ketika aku datang saja, setelah itu kau lupa begitu saja. Aku takut pertemuan kita yang indah hanya indah di awal awal saja, setelah beberapa hari kau merasa bosan dan akhirnya menjalaninya sebagai rutinitas belaka. Padahal kau belum selesai melalui tiga tahapan yang akan kau lalui. Kau malah sibuk berjalan jalan ke mall, untuk menghias tubuhmu dimana orang orang mengatakan ayo menyambut kemenangan. Kenapa tak kau beli hiasan itu sekarang saja, hingga ketika aku datang, kau sepenuh hati menungguiku hingga aku pulang. sehingga ketika aku datang kau bisa berlama lama menyepi berdua denganku, untuk menemuiNya, di malam malam Nya.

Tak kah kau rindu gegap gembitanya malaikat yang turun ke bumi, dengan ribuan jumlahnya, bersama sang maha pemilik Alam raya ini, bahkan seluruh makhluk tertunduk dan bersiap menyambutnya. Atau bahkan tak pernah kau pinta dari sekarang untuk bertemu dengan sang malam yang luar biasa indah itu, yang sama dengan puluhan  ribu malamNya.

Sungguh aku pun sangat merindu dirimu, semoga kau pun juga merinduku, dalam setiap doa doamu, dalam setiap langkah langkahmu, dalam setiap alunan napasmu, aku hanya bisa berdoa, semoga disampaikan umurmu menemuiku, hinga rahmad, ampunan, dan kebebasan dari api neraka akan kau peroleh dengan indahnya. Amin
***************
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar