Minggu, 04 Maret 2012

Terus Bersamanya, Walau Lembayung Senja beranjak ke Semburat Jinga yang Hangat

Lembayung senja menatap matahari yang beranjak malu ke peraduannnya. Semburat merah di ujung cakrawala, kadang menipu kita kapan maghrib datang menjelma. Kicauan burung terdengar sayup di ujung cakrawala, kepakan sayapnya makin lirih terdengar menuju peraduannya. Sedangkan rembulan terlihat malu malu memperlihatkan sebersit garis yang melengkung indah , mengajak kita untuk duduk berdua berlama lama disana.


Malam ini kulihat bulan sudah hampir terlihat separuh, bumi pun terlihat lebih terang, dan dedaunan pepohonan terlihat mengkilap di pekatnya malamnya. Tetapi,  D begitu anggun menunggu untuk disapa dan diajak bercakap cakap mesra. Sedangkan sang  rembulan  yang terlihat separuh pun nampaknya sungguh nyaman untuk kita nanti bisa duduk bersama, berlama lama di sana.

Lembayung senja terus menerus berjalan tak kenal henti, berganti dengan Jingga pagi yang hangat dan ramah. Tetapi dia tak pernah bosan untuk terus menunggu dan menunggu disapa. Sedangkan sang rembulanpun beranjak dan terus semakin penuh, hingga kita tak mampu lagi duduk bersama di sana.

” Kau jarang sekali mengajakku serta, padahal waktu terus berlalu, dan aku tak punya banyak waktu lagi menemanimu”, begitu dia sapa diriku dengan tatapan kosong di ujung sana. Sedang lembayung senja dan Jingga pagi terus menerus bergantian tak pernah henti. Aku hanya termangu, ” sungguh bukan maksudku untuk tidak memperhatikan dirimu, atau malah melupakanmu sama sekali”, kataku padanya. Dia tersenyum  manis di ujung mendengar jawabku, menunggu sapaanku  yang jarang sekali datang. Dia hanya ingin aku duduk berlama lama dengannya dan mengajaknya bercerita panjang mengenai banyak hal.  Katanya, Berlama lama dengannya membuat hati nyaman tak terkira, berlama lama dengannya membuat rasa penuh dengan warna.

“Aku minta maaf padamu” kataku lirih, ketika kali ini aku sempat menyapanya walau hanya sebentar. Sekali lagi senyumnya makin menguat dan mempesona. Hingga tak kuasa rasa malu begitu rupa membelengguku, yang tak pernah punya waktu bersamanya, sedangkan tiap hari paling tidak sedikitnya aku berjanji 9 kali  untuk setia bersamanya.  Ingin sekali aku berlama lama dengannya, hingga berubahnya lembayung senja ke semburat jingga yang hangat tak lagi berasa.

Padahal aku merasakan luar biasa tatkala berdekatan dengannya
Berbicara dengannya, bagaikan tetesan air es yang mebasahi kerongkonganku.
Mengenalnya, membuat aku makin mengerti akan arti hidup.
Berlama lama dengannya membuatku semakin rindu untuk terus akrab dengannya.

“Kau rindu padaku?” tanyanya ketika lembayung senja ini sudah berganti selama enam kali dengan semburat jingga yang hangat’. Dan kembali aku hanya tertunduk malu, karena selama perputaran waktu ini pun, sedikit sekali aku menyapanya dalam hening kesahduan.

” Bukankah sudah semakin dekat?” tanyanya lagi padaku. Aku hanya bisa menarik napas perlahan, dan makin menundukan pandanganku . ” Aku minta maaf”, kataku lirih. dan dia hanya tersenyum, manis dan selalu manis di ujung sana.
 
” Kau tak ingin berlatih, membiasakan diri bersamaku? ketika lembayung senja itu telah semakin mendekati Semburat Jingga hangat yang makin indah?” , tanyanya anggun padaku. Senyum piasku pun hanya membalas pertanyaannya, sungguh. Pekerjaan, kegiatan, ataupun bertemu dengan teman membuatku semakin jauh dan jauh.. walau kadang aku masih sempat menyapanya sesekali.

” Tidak apa apa, ” katanya, ketika lidahku sudah kelu, bahkan untuk menarik ujung bibirpun aku tak lagi bisa. “Kita masih ada waktu untuk saling mengenal dan berbincang bincang, hingga ketika tiba lembayung senja yang sangat indah, kau sudah terbiasa denganku untuk duduk berlama lama berdua denganku”. Dan kali ini aku kembali tertunduk penuh malu. “Tenanglah aku kan selalu menunggumu” begitu katanya, ketika lembayung senja inipun aku kembali berlalu darinya.
 
Lembayung senja kembali datang menyapa, kali ini aku tak lagi mau kehilangannya. Kudekati dirinya dan kusapa dengan cinta. Terlihat guratan guratan senyum manis dirinya, hingga aku pun betah berlama lama dengannya Enam semburat jinga hangat telah lewat, berarti tinggal 52 lembayung senja terlewat. Hingga saat itu, maka bersamanya akan semakin membuatku merasa aman dan syahdu. Apalagi nanti ketika  diperkenankan untuk rasai 360.000 lembayung senja, dapat aku nikmati bersamanya walau sebenarnya itu hanya satu lembayung senja.

Kudekap dirinya erat, dan kembali kubalik lagi satu persatu… Agar yang menurunkannya pun tahu, betapa aku merindukannya dan merinduNYa. Semoga 30 lembayung senja ini aku kembali dapat menemuinya di awal perjalananku dulu, hingga di 30 lembayung selanjutnya aku pun masih dapat menemuinya kembali di awal kita jumpa, hingga ketika lembayung senja dan sembrat jingga yang hangat istimewa itu datang, aku bukan hanya sekali dua kali bertemu kembali dengannya di awal pertemuan kita. Karena 360.000 lembayung senjaNya, sungguh sangat berarti bagiku. karena ribuan makhlukNya yang tak pernah ingkar padaNya akan turun ke bumi, menebarkan keberkahan yang luar biasa, dan Dia juga turun langsung kebumi untuk mengabulkan semua pinta hambaNya. Hingga ketika lembayung senja itu lewat berganti dengan semburat Jinga hangat dengan seluruh gema takbir bersautan, aku tak menyesal karena meninggalkannya. Karena awal kita bertemu telah berulang di waktu waktu indah itu.
13075529191451711312
“Terinspirasi oleh sebuah catatan seorang teman”
“Ya Allah berkahilah kami di bulan rajab dan syakban, dan samapaikanlah kami ke bulan ramadhan, Kuatkanlah kami untuk mengapai keindahan ramadhan dengan KitabMU, Amin.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar