Pagi tadi aku mendapat telepon dari
adikku , sebut saja namanya Dian. Usianya dua tahun lebih muda dariku,
walaupun begitu anaknya lebih tinggi dariku, mungkin karena gizinya juga
lebih baik dariku ya dulu. Dia bertanya , jika dari rumah ke semarang,
Bis sumber alam itu jam 8 atau jam 9 pagi. Sambil terus menerima
teleponnya , aku lalu mencari tiket sumber alam yang sengaja kusimpan di
agenda harian, sehingga setiap aku membutuhkan maka mudah bagiku
mencarinya. sampai telepon berjalan 15 menit, tak kutemukan juga
agendaku, otomatis tak kutemukan pula tiket bis yang kusimpan. Aku pun
menyarankan untuk menelepon sumber alam langsung saja, dan kukirim no
kantor sumber alam ke dirinya.
****
Kedatangan dian ke semarang memang sudah
ditunggu tunggu, lebaran kemarin dia tidak sempat bertemu kakak
iparnya, dikarenakan perbadaan waktu pulang, sehingga sabtu ini rencana
bertemu di semarang, dan minggunya berangkat bareng ke jakarta.
kebetulan kakak ipar dan suami dian kerjanya di jakarta. Jam 4 sore,
aku berpikir dian pastilah sudah sampai ke semarang, maka ku sms dia,
posisi dimana dan kusuruh mampir, he he, kangen dengan salaman, anak
dian , yang masih lucu lucunya.
Jawaban dian membuatku terhenyak, ”
Nggak jadi ke semarang, tadi dah siap siap, terus waktu Pras (suaminya)
pamit ke ibu,ibu malah menangis, begitu aku masuk ada apa, eh malah
menangis semakin keras.” Aku langsung paham, pasti ibu sakit. maka
langsung kubalas smsnya, aku tidak bisa telepon karena terbatas akan
pulsa yang makin menipis,
“Memang ibu sakit?” tanyaku
“Iya, kemarin sakit, ini udah agak
baikan, maksudku, aku mau ikut pras, ke semarang, terus setelah itu
langsung ke tangerang, tapi ibu malah menangis, aku jadi bingung,
kasian, ya udah ditunda sampai bulan depan” jawab dian
” ya , udah, didoakan saja, semoga ikhlas dan tenang” jawabku lagi
Dan setelah itu aku tidak berbalas sms
lagi karena pulsaku yang habis. Aku langsung teringat, seminggu sebelum
lebaran, aku pulang awal. Kebetulan dirumah sudah aada keluarga kakakku
yang no 6. Kami adalah keluarga besar, ibu dan bapak mempunyai 11 anak,
dan alhamdulillah sampai sekarang semuanya sehat sehat semua. Kami
dilahirkan dengan jarak satu setengah tahun sampai dua tahun. Produktif
sekali ya, he he.Seminggu pas aku pulang itu, ibu terliat sumringah,
membayangkan anak anaknya yang akan berkumpul semua. Total ketika
dihitung maka nanti akan ada 34 orang dalam rumah, Ibu dan bapak,
sebelas anak, sembilan menantu , dan 13 cucu, wah membayangkan saja aku
sudah tersenyum geli, hadeuhh isinya ntar cuma masak, cuci piring, masak
dan cuci piring, kebetulan kami tidak punya mbak mbak yang ada di
rumah, yang ada hanya tenaga pocokan buat nyuci, dan kalaupun lebaran
dia juga libur. Terbayang sudah , capek yang luar biasa, karena dari
tujuh perempuan yang dilahirkan, aku sendiri yang masih lajang, dan
selalu yang lajanglah yang jadi korban..he he.
****
selama lebaran itulah, ibu memanjakan
kami dengan masakannya, karena beliau mengerti sekali, bagaimana kami
begitu mengidolakan maskannya, walaupun kami kami juga membantunya,
seperti menumbuk bumbu, ibu tidak pernah mau jika bumbu diblender,
intinya ibu hanya memasak saja. cuma memang kadang kita agak nakal,
karena lama tidak bertemu, maka kebanyakan kami kalau mengobrol suka
lupa waktu, seingga biasanaya ibu akan bergerak cepat memasak nasi
ataupun air di dapur. ditambah lagi cucu cucunya yang suka buat rusuh,
dan juga kujungan tamu yang luar biasa banyak, karena bapak adalah laki
laki yang dituakan di keluarga bapak.
Kondii yang tidak sama dengan dulu, dan
badan yang juga mungkin terkuras harus melahirkan sebelas anak dan
mengurusnya, membuat ibu suka sakit jika kelelahan. walaupun begitu,
ibu tidak pernah bisa diam, sehingga kami selalu berusaha melakukan
semua hal, karena jika tidak segera dilakukan , maka pekerjaan tersebut
akan dilakukan oleh ibu, ditambah ibu mempunyai darah tinggi, sehingga
kecapekan sedikit maka darahnya bisa naik.
***
ketika tiba saat anak anaknya harus
pulang, aku sudah melihat goresan goresan kelelahan di wajahnya. Makanya
aku yang tinggal lebih dekat, mengalah untuk pulang akhir, sehingga
nanti yang merapikan semua rumah biar aku saja. Dari menjemur karpet,
kasur, menata kembali ruang tengah , ruang mushola, ruang nonton
televisi, yang disulap dijadikan tempat tidur, memasukan kursi di
beranda ke ruang tamu, dan merapikan pakaian pakaian yang berantakan,
dan mencuci dan menempatkan kembali puluhan toples ke dalam lemari.
semua itu kucicil dalam waktu dua hari. setelah semua beres barulah aku
pulang ke semarang. Tinggal adikku dian dan anaknya yang masih tinggal
di rumah. sebenarnya kakak pertamaku dan istrinya juga tinggal bersama
Ibu dan bapak , cuma memang dia belum diberikan kepercayaan untuk
mendapat momongan. jadi rumah terliat sangat sepi sekali jika semua
sudah pulang. Aku jadi ingat dulu, ketika kuliah dan aktif di lembaga
kampus, maka waktu itu tak terasa enam bulan aku tidak pulang ke rumah,
waktu itu ibu menelepon, bahkan sampai bapak juga meneleponku untuk
pulang, Waktu itu aku berpikir karena sepi saja, makanya ku sms seluruh
kaka dan adikku, dan akhirnya justru aku dimarahin , karena aku sendiri
yang tidak pernah telepon dan pulang, sungguh sesal yang luar biasa
waktu itu.
****
Kesedihan dikarenakan kesepian inilah
yang kadang kadang sering membuat ibu sakit, dibandingkan kecapekan yang
dialaminya. Merasa sepi , sedang dulu begitu ramai, merasa sendirian di
rumah , juga membuat ibu kadang darahnya menjadi naik. Biasanya jika
sakit, maka ketika beberapa anak pulang berkumpul, maka wajahnya akan
terliat segar sumringah dan kembali sehat. tetapi ketika sakit ibu
tidak pernah mau bilang kepada anaknya, pernah dulu waktu aku telepon
beliau bilang baik baik saja sambil tertawa tertawa, eh ternyata sorenya
masuk rumah sakit. Ibu, sungguh engkau sangat lembut hatinya,
Semoga saja Allah akan menjagamu sebaik
mana engkau menjaga kami dulu, semoga allah memudahkan segala urusanmu
sebagaimana engkau selalu memberikan yang terbaik untuk kami. Semoga
Allah memberikan pemahaman yang lurus bagi dirimu, sebagaimana engkau
berusaha memberikan bekal keimanan yang terbaik untuk kami, Semoga Allah
memberikan tempat terbaik di dunia dan di akhirat kelak, sebagaimna
engkau meperjuangkan tempat terbaik untuk kami.
Adakah kita sudah sering menghubungi ibu
ibu kita? Sungguh akan merugi jika nanti ketika napas sudah tidak
berdetak dan tak ada waktu untuk menyambung silaturahmi, maka sesal yang
akan datang belakangan sudah sangat tidak berguna.
Ibu maafkan kami, kadang dengan alsan kerja dan keluarga, kami sering melupakanmu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar