Minggu, 04 Maret 2012

Semoga Bahagia selalu Bersamamu , IBU

Pagi tadi aku mendapat telepon dari adikku , sebut saja namanya Dian. Usianya dua tahun lebih muda dariku, walaupun begitu anaknya lebih tinggi dariku, mungkin karena gizinya juga lebih baik dariku ya dulu. Dia bertanya , jika dari rumah ke semarang, Bis sumber alam itu jam 8 atau jam 9 pagi. Sambil terus menerima teleponnya , aku lalu mencari tiket sumber alam yang sengaja kusimpan di agenda harian, sehingga setiap aku membutuhkan maka mudah bagiku mencarinya. sampai telepon berjalan 15 menit, tak kutemukan juga agendaku, otomatis tak kutemukan pula tiket bis yang kusimpan. Aku pun menyarankan untuk menelepon sumber alam langsung saja, dan kukirim no kantor sumber alam ke dirinya.
****
 
Kedatangan dian ke semarang memang sudah ditunggu tunggu, lebaran kemarin dia tidak sempat bertemu kakak iparnya, dikarenakan perbadaan waktu pulang, sehingga sabtu ini rencana bertemu di semarang, dan minggunya berangkat bareng ke jakarta. kebetulan kakak ipar dan suami dian kerjanya di jakarta.  Jam 4 sore, aku berpikir dian pastilah sudah sampai ke semarang, maka ku sms dia, posisi dimana dan kusuruh mampir, he he, kangen dengan salaman, anak dian , yang masih lucu lucunya.

Jawaban dian membuatku terhenyak, ” Nggak jadi ke semarang, tadi dah siap siap, terus waktu Pras (suaminya) pamit ke ibu,ibu malah menangis, begitu aku masuk ada apa, eh malah menangis semakin keras.”  Aku langsung paham, pasti ibu sakit. maka langsung kubalas smsnya, aku tidak bisa telepon karena terbatas akan pulsa yang makin menipis,

“Memang ibu sakit?” tanyaku
“Iya, kemarin sakit, ini udah agak baikan, maksudku, aku mau ikut pras,  ke semarang, terus setelah itu langsung ke tangerang, tapi ibu malah menangis, aku jadi bingung, kasian, ya udah ditunda sampai bulan depan” jawab dian
” ya , udah,  didoakan saja, semoga ikhlas dan tenang” jawabku lagi

Dan setelah itu aku tidak berbalas sms lagi karena pulsaku yang habis. Aku langsung teringat, seminggu sebelum lebaran, aku pulang awal. Kebetulan dirumah sudah aada keluarga kakakku yang no 6. Kami adalah keluarga besar, ibu dan bapak mempunyai 11 anak, dan alhamdulillah sampai sekarang semuanya sehat sehat semua. Kami dilahirkan dengan jarak satu setengah tahun sampai dua tahun. Produktif sekali ya, he he.Seminggu pas aku pulang itu, ibu terliat sumringah, membayangkan anak anaknya yang akan berkumpul semua.  Total ketika dihitung maka nanti akan ada 34 orang dalam rumah, Ibu dan bapak, sebelas anak, sembilan menantu , dan 13 cucu, wah membayangkan saja aku sudah tersenyum geli, hadeuhh isinya ntar cuma masak, cuci piring, masak dan cuci piring, kebetulan kami tidak punya mbak mbak yang ada di rumah, yang ada hanya tenaga pocokan buat nyuci, dan kalaupun lebaran dia juga libur. Terbayang sudah , capek yang luar biasa, karena dari tujuh perempuan yang dilahirkan, aku sendiri yang masih lajang, dan selalu yang lajanglah yang jadi korban..he he.
****
selama lebaran itulah, ibu memanjakan kami dengan masakannya, karena beliau mengerti sekali, bagaimana kami begitu mengidolakan maskannya, walaupun kami kami juga membantunya, seperti menumbuk bumbu,  ibu tidak pernah mau jika bumbu diblender, intinya ibu hanya memasak saja. cuma memang kadang kita agak nakal, karena lama tidak bertemu, maka kebanyakan kami kalau mengobrol suka lupa waktu, seingga biasanaya ibu akan bergerak cepat memasak nasi ataupun air di dapur. ditambah lagi cucu cucunya yang suka buat rusuh, dan juga kujungan tamu yang luar biasa banyak, karena bapak adalah laki laki yang dituakan di keluarga bapak.

Kondii yang tidak sama dengan dulu, dan badan yang juga mungkin terkuras harus melahirkan sebelas anak dan mengurusnya, membuat ibu suka sakit jika kelelahan.  walaupun begitu, ibu tidak pernah bisa diam, sehingga kami selalu berusaha melakukan semua hal, karena jika tidak segera dilakukan , maka pekerjaan tersebut akan dilakukan oleh ibu, ditambah ibu mempunyai darah tinggi, sehingga kecapekan sedikit maka darahnya bisa naik.
***
ketika tiba saat anak anaknya harus pulang, aku sudah melihat goresan goresan kelelahan di wajahnya. Makanya aku yang tinggal lebih dekat, mengalah untuk pulang akhir, sehingga nanti yang merapikan semua rumah biar aku saja. Dari menjemur karpet, kasur, menata kembali ruang tengah , ruang mushola, ruang  nonton televisi, yang disulap dijadikan tempat tidur, memasukan kursi di beranda ke ruang tamu, dan merapikan pakaian pakaian yang berantakan, dan mencuci dan menempatkan kembali puluhan toples ke dalam lemari. semua itu kucicil dalam waktu dua hari. setelah semua beres barulah aku pulang ke semarang. Tinggal adikku dian dan anaknya yang masih tinggal di rumah. sebenarnya kakak pertamaku dan istrinya juga tinggal bersama Ibu dan bapak , cuma memang dia belum diberikan kepercayaan untuk mendapat momongan. jadi rumah terliat sangat sepi sekali jika semua sudah pulang. Aku jadi ingat dulu, ketika kuliah dan aktif di lembaga kampus, maka waktu itu tak terasa enam bulan aku tidak pulang ke rumah, waktu itu ibu menelepon, bahkan sampai bapak juga meneleponku untuk pulang, Waktu itu aku berpikir karena sepi saja, makanya ku sms seluruh kaka dan adikku, dan akhirnya justru aku dimarahin , karena aku sendiri yang tidak pernah telepon dan pulang,  sungguh sesal yang luar biasa waktu itu.
****
Kesedihan dikarenakan kesepian inilah yang kadang kadang sering membuat ibu sakit, dibandingkan kecapekan yang dialaminya. Merasa sepi , sedang dulu begitu ramai, merasa sendirian di rumah , juga membuat ibu kadang darahnya menjadi naik. Biasanya jika sakit, maka ketika beberapa anak pulang berkumpul, maka wajahnya akan terliat segar sumringah dan kembali sehat.  tetapi ketika sakit ibu tidak pernah mau bilang kepada anaknya, pernah dulu waktu aku telepon beliau bilang baik baik saja sambil tertawa tertawa, eh ternyata sorenya masuk rumah sakit.  Ibu, sungguh engkau sangat lembut hatinya,

Semoga saja Allah akan menjagamu sebaik mana engkau menjaga kami dulu, semoga allah memudahkan segala urusanmu sebagaimana engkau selalu memberikan yang terbaik untuk kami.  Semoga Allah memberikan pemahaman yang lurus bagi dirimu, sebagaimana engkau berusaha memberikan bekal keimanan yang terbaik untuk kami, Semoga Allah memberikan tempat terbaik di dunia dan di akhirat kelak, sebagaimna engkau meperjuangkan tempat terbaik  untuk kami.

Adakah kita sudah sering menghubungi ibu ibu kita? Sungguh akan merugi jika nanti ketika napas sudah tidak berdetak dan tak ada waktu untuk menyambung silaturahmi, maka sesal yang akan datang belakangan sudah sangat tidak berguna.

Ibu maafkan kami, kadang dengan alsan kerja dan keluarga, kami sering melupakanmu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar