Membaca tulisan pak JK berkaitan dengan rencana pemerintah memindahkan ibukota
Jakarta untuk menyelesaikan persoalan macet di Jakarta,membuat saya
semakin tidak mengerti bagaimana pola piker pemmerintah kita sebenarnya.
Ibaratnya seperti meruntuhkan bangunan yang sedikit kena rayap, lalu
membangun lagi, tanpa berusaha mematikan rayap tersebut, bisa ditebak
tentu saja bangunan baru tersebut pun akan dimakan rayap pula, karena
rayap rayap itu masih dibiarkan hidup.
Pemerintah seperti
berpikir praktis, hanya menutupi masalah tapi tidak berusaha mencari
solusi mengapa masalah ini bisa muncul. Yang penting sementara masalah
selesai sementara perkara nanti ada masalah yang sama ya nanti
diselesaikan nanti. Kalau begini terus maka tidak mungkin ibukota kita
akan berpindah terus menerus dengan biaya yang luar biasa besar hanya
karena alasan kemacetan. Padahal angka kemiskinan masayarakat kita masih
sekitar 14% (bahkan bisa lebih), nah uang untuk ngurusin pembangunan
ibukota baru itu kan bisa untuk menciptakan lapangan kerja baru sehingga
yang 14% ini bisa makin berkurang.
Macet memang merupakan
momok yang menyebalkan bagi pengguna jalan, setiap orang pastilah
mempunyai agenda masing masing setiap harinya, mempunyai rencana
kegiatan dari jam yang satu ke jam berikutnya. Nah kalau ternyata
waktunya banyak tersita di jalan, habislah hidupnya hanya untuk menunggu
di jalan dan agenda agenda lainnya jadi terbengkalai. Dan akhirnya
tujuan hidup pun akan mengalami kemunduran.
Para pejabat sih enak,
mereka tinggal minta “nguing nguing” untuk berbunyi di jalan, habis itu
lewat deh dengan santai, tanpa merasakan macet di jalan raya. Liatlah
presiden salah satu negara Asean yang baru, dia tidak mau menggunakan
nguing nguing agar bisa merasakan bagaimana macet di jalan. Dan tentu
sangat tidak nyaman, akhirnya pun akan memaksa dia untuk berpikir
bagaimana ini agar tidak macet. Sedangkan pemerintah kita tidak pernah
(hampir jarang) terkena macet, makanya tidak bisa menyelami bagaimana
psikologis terkena macet, dan ini berakibat mereka menjadi tidak serius
mengerjakan proyek anti macet.
Mengatasi MACET
Saya
bukanlah ahli tata kota, tetapi bolehlah saya menyumbangkan pikiran
walaupun mungkin tak jua di baca oleh pemerintah. Tapi ndak
masalah,minimal saya bia menulis kembali apapun bentuknya.
Mengatasi macet ini harus diliat, bagaimanakah penyebabnya :
1. Apakah
karena daya tampung jalan sudah tidak sesuai dengan jumlah kenaikan
pemilikan kendaraan di daerah tersebut? Artinya bisa jadi ketika nanti
semua mobil keluar dan berada di jalan, maka tidak bisa jalan, karena
seluruh jalan tertutup badan mobil, dan mobil pun ya udah hanya
nongkrong saja di situ.
2. Apakah
kemacetan karena kurangnya disiplin aparat penjaga jalan? Nah kalau
yang ini dikarenakan adanya suap yang sudah biasa dilakukan aparat
penjaga jalan, ‘halah ngasih 20 ribu aja ntar bisa”.
3. Atau
karena disiplin para pengguna jalan yang memang tidak mempunyai sopan
santun, mementingkan diri sendiri, yang penting cepat sampai, tanpa
memepdulikan hak pengguna jalan lainnya. Termasuk sopir angkutan yang
suka ngetem di jalan dan berhenti sembarangan.
4. Atau
karena rusaknya jalan yang bergelombang dan berlubang, sehingga membuat
banyak kendaraan memilih jalan, atau membuat lajur jalan menjadi
sempit.
5. Atau karena matinya rambu rambu lalu lintas?
Nah jika melihat dari
masalah penyebab kemacetan di jalan di atas kan, menjadi tidak lucu,
kalau akhirnya dibilang penyelesaiannya pindah saja kotanya…….ha ha ha
ha ha.
Jika yang mennjadi masalah point satu maka sebenarnya pemerintah bisa membuat :
1. Pembuatan rink parkir dengan biaya yang berbeda beda, semakin masuk rink parkir kedalam
kota , maka semakin besar biaya parkirnya. Gunakanlah stiker parkir
atau apalah yang menunjukan bahwa mobil tersebut berhak masuk ke rink
rink yang dimaksud, (coba liat di Inggris atau di Ausie, kayaknya deh,
kayak cerita teman saya). Bisa jadi biaya parkir setahun akan melebihi
harga beli mobil. Tentu ini akan membuka pikiran bagi orang orang yang
bermobil, apa iya setiap tahun mengeluarkan biaya parkir sebesar harga
mobil sampai ratusan juta rupiah. Nah minimal dengan ini akan mengurangi
jumlah kendaraan di jalan di area area tertentu. Tapi tentu saja ini
akan ada protes bahwa hanya orang yang sangat kaya yang bisa masuk ke
daerah tertentu? Jawabnya iya, lalu yang lain bagaimana?
Nah
pemerintah harus segera membuat layanan, public yang aman dan nyaman,
dari trans Jakarta, monorel, MRT atau apalah namanya. Dalam point satu
juga berlaku untuk kendaraan Dinas, kecuali presiden dan Menteri, bahkan
seorang Direktur BUMN pun juga harus patuh, Lha nanti kalau ada kecuali
bagi kendaraan Dinas, plat bisa ganti merah semua….tahulah negeri ini
belum siap begituan….
2. Untuk point 2 dan 3 maka jelas sudah, pake aturan tilang dengan denda yang luar biasa tinggi sebagai efek jera, bisa
ndak ya kayak di luar, orang ditilang , tiba tiba ada surat datang ke
rumah karena dia tidak tertib di jalan. Berkaitan dengan para penjaga
jalan, ya itu sekali lagi pimpinanya harus sering cek ke jalan, anak
buahnya bener ndak, buka telinga dan pengaduan, begitu ada anak buah
main belakang, maka kasih sanksi berupa pemotongan setengah gaji…he he
he..parah banget ya…habis dah kesel sama penjaga jalan gituan.
3. Kalu
poinnya masalah point 4 dan lima maka gampang, perbaiki jalannya
perbaiki rambunya, apa guna kita bayar restribusi jalan dsb, kalau
jalanan tetap bolong bolong, apa guna departemen perhubungan kalau Cuma
liat jalan bolong aja ndak bisa…
Nah dengan begitu maka
saya pikir kemacetan di jakrta akan sedikit terselesaikan sedikit demi
sedikit, ndak karena macet maka ibukota pindah weleh weleh weleh…gampang
banget mikirnya, sekolah tinggi tinggi, dibayar tinggi tinggi…bisanya
mikirnya praktis…
Beda lagi kalau alasan
pindahnya pemerataan pembangunan atau apa gitu, yang nyambung say amah
setuju setuju aja, untuk kenbaikan bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar