Minggu, 04 Maret 2012

Ketika Sahabat Tak Lagi Bermakna

tit tut tit tut
hpku yang sudah kusimpan diujung tasku berbunyi lagi
ah dia tak tahu rupanya, kalau aku sedang asik bermain rubik
sembari menunggu angkot sampai tempat kerja
dengan ujung ujung jemariku kucari cari kotak hitam penerima pesan itu
aihhhh……kembali no itu….
” *** sudah tidak suci lagi, dan bla bla bla bla”


kali ini aku kembali tersenyum miris
hampir seminggu lebih aku menerima sms yang sama di saat lebaran
waktu itu aku hanya menjawab bahwa temanku *** adalah orang baik
Dan hanya kututup dengan sudahlah……*** teman kita yang harus kita jaga
setelah itu puluhan sms tak pernah kujawab
sebulan lebih ternyata pagi ini sms itu datang kembali
mengabarkan hal yang sama
bosan aku mendengarnya
dia tak tahu bahwa temanku *** tiga tahun lalu pernah bercerita
tentang aib yang menimpa ***
ah aku tak tahu motivasi  dirinya mengirimkan sms yang sama sekali tak berguna bagiku
tahukah kau…betapa sulit menjaga rahasia aib orang
betapa setan bertebaran disekeliling badan
hanya agar bibir ini menjadi infotainment jalanan
membeberkan pada semua orang
tentang semua aib yang tak sengaja menjadi racun dalam tubuhku
tak belajarkah engkau ,,,,,bahwa sampai saat ini
Tuhan masih berbaik hati pada kita
Menyembunyikan semua aib yang kita punya
Ataukah kau begitu sombongnya menyadari tak ada aib yang melekat
Maka dengan seenak hati kau umbar kata katasyarat  tak bermakna
Mengumbar aib *** hanya untuk mendapat pembenaran
Bahwa kau benar……kau pintar…….dan kau tahu segalanya
Kau suci luar biasa……bagaikan sepotong kapas tak bernoda
Tak ingatkah kau derasnya air mata *** yang bercerita
Bahwa dia telah bernoda
Atau derasnya lelehan di pipi *** sudah tak lagi bermakna
Atau tak kau liat kah ceria di pipi ***
Hanya untuk menyembunyikan semua deritanya
Hanya untuk memperliatkan pada dunia bahwa dia baik baik saja
Teganya dirimu yang membuka semua aibnya
Ataukah persahabatan kita hanya bagaikan selembar kertas…yang hangus bila api datang menjilat
sungguh…..kau yang terkenal anggun
berbudi luhur
berpendidikan luar biasa
Bertutur kata sopan tak terkira
Dan selalu mendapat nilai A
selalu datang dimana kajian keagamaan digelar
Begitu mudah menjadi seorang penghianat
Hanya karena untuk membuktikan kau benar adanya
Disini kembali
ketika kutulis cerita ini aku tersenyum sambil menangis
tahukah kau tiga tahun lalu aku lebih tahu daripada apa yang kau tahu
aku lebih paham apa yang kau pahami
Aku hanya tidak mau *** yang sudah mempercayai kita
Telah sia sia bercerita kepada kita
karena kita tak mampu lagi menjaga rahasia
Tentang sebuah cerita yang diamanahkan pada kita semua
Atau kau tak tahu bahwa karma ada dalam dunia?
Semoga itu tidak benar adanya
karena bagaimanapun kita semua adalah saudara
takkan mau melihat saling terluka
kalau dia memang ingin dilihat bahagia
mengapa kita justru ingin memperlihatkan lukanya?
Bukankah kita semua tak mau terluka?
“Untuk seorang teman di sebuah kota…tenanglah..karena kita akan berdiri tegak disebelahmu, menghadang segala hina dina yang mereka alamatkan padamu….bukankah kita sahabat selalu?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar